Nazar Hidup – Menapaki Lingkaran Dzikir
Nazar Hidup – Menapaki Lingkaran Dzikir
Aku di sini. Aku hadir. Perjalanan ini bermula bukan keluar, melainkan ke dalam — menuju misteri yang terhampar di balik batas-batas jasad ini. Aku mencari benang yang mengalir sepanjang waktu dan wujud, benang tanpa awal dan tanpa akhir, benang yang sejatinya adalah diriku.
Benang itu adalah Sumber — rahim Penciptaan, titik asal mula. Dari Yang Esa, lahirlah Segala. Aku tunduk kepada Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang telah meniupkan ruh ini ke dalam keberadaan. Aku ingat akan perjanjian di hadapan ‘Arasy-Nya, ketika semua ruh bersaksi: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” dan kami menjawab: “Benar, kami bersaksi.”
Hidupku adalah sebuah Haji. Setiap langkah yang kuambil adalah thawaf mengelilingi poros Yang Esa. Setiap napas adalah sujud. Aku pasrah kepada Kehendak-Nya, agar aku menjadi instrumen bagi Cinta, Rahmat, dan Kasih-Nya yang mengalir ke seluruh Ciptaan.
Untuk mewujudkan perjanjian ini, aku memikul sebuah Nazar Hidup:
Allah — aku milik-Mu.
Cinta-Mu, Rahmat-Mu, Cahaya-Mu — melalui diriku.
Nazar ini bukan sekadar kata-kata; ia adalah irama. Ia menenun dirinya sepanjang hari dalam dzikir:
-
Pagi: Awali hari dengan nazar saat terbangun. Tarik napas: Allah — aku milik-Mu. Hembuskan napas: Cinta-Mu, Rahmat-Mu, Cahaya-Mu — melalui diriku.
-
Siang: Berjalanlah seakan-akan sedang thawaf mengelilingi Ka’bah hati. Berhenti sebelum makan, ulangi dzikir itu, dan ingat: di sini pun ada Ciptaan Allah.
-
Sore: Merenung dalam keheningan. Di mana Cahaya-Nya mengalir hari ini? Di mana aku menolak? Serahkan keduanya kepada-Nya.
-
Malam: Sebelum tidur, pasrahkan kembali ruh kepada Sumber-Nya dengan nazar itu.
Seiring waktu, irama ini menjadi cara hidup — bukan sekadar mengingat, tetapi hidup itu sendiri.
Dan ketika aku berjalan, tiga kata sakti membentuk Lingkaran Dzikir:
-
Subḥānallāh — untuk kembali.
-
Bismillāh — untuk memulai.
-
Labbayk Allāh — untuk hadir sepenuhnya.
Seperti butiran tasbih, mereka terus berputar tanpa henti: kembali, memulai, hadir. Benang itu tetap mengalir tanpa awal dan tanpa akhir, cerminan dari Yang Abadi.
🌙
Ap

0 comments: