Kasih Sayang Tanpa Batasan

9:28 PM Shamsul 0 Comments

 

                                                   MGTF - Petugas wanita yang kini dan lampau.


Kasih Sayang Tanpa Batasan

Di dalam fitrah manusia, ada satu anugerah yang paling halus dan murni — kasih sayang tanpa batasan. Inilah kasih yang tidak bertanya siapa engkau, dari mana asalmu, apa pangkatmu, atau bagaimana rupamu. Ia hadir kerana menyedari bahawa setiap yang bernyawa adalah ciptaan Allah, berhak menerima rahmat dan kelembutan.

Namun, di zaman ini, kasih sebegini semakin hilang daripada amalan kita. Kasih sayang telah diletakkan syarat: kerana kepentingan, kerana harta, kerana rupa. Bila syarat itu hilang, kasih juga turut terpadam. Akibatnya, tali muhibah sesama manusia menjadi renggang — jiran tidak mengenali jiran, masyarakat terpisah oleh fahaman, bahkan keluarga pun retak kerana syarat-syarat yang dicipta.

Rasulullah ﷺ datang sebagai rahmatan lil-‘alamin — rahmat untuk sekalian alam. Baginda mengasihi tanpa memilih, mendoakan walau dicaci, dan mengampuni walau disakiti. Inilah kasih sayang tanpa syarat yang kita telah jauh meninggalkannya.

Kasih tanpa syarat tidak bermakna kita membenarkan segala salah laku, tetapi ia menuntut kita melihat insan lain dengan mata hati: seorang makhluk yang sedang mencari jalan pulang. Dari pandangan inilah lahir kelembutan, kesediaan menolong, dan kekuatan untuk memaafkan.

Sesungguhnya, hilangnya kasih ini adalah hilangnya hubungan kita dengan diri sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan Tuhan. Maka marilah kita hidupkan kembali sifat ini, biarpun dengan sekecil-kecil amalan — sekuntum senyuman, sebutir doa, seulas kata yang menyejukkan jiwa. Dari kasih kecil itu, lahir gelombang rahmat yang bisa mengikat manusia semula dalam satu tali persaudaraan.


#KasihSayang #UnconditionalLove #RahmatanLilAlamin #Muhibah #FitrahInsan

0 comments:

🌸 Wirid Harian Peneguh Hati - untuk menghlangkan pening perut, senak kepala!

7:12 PM Shamsul 0 Comments

 


🌸 Wirid Harian Peneguh Hati

Ramblings of the Cheeseburger Buddha

Bismillāh-ir-Raḥmān-ir-Raḥīm

Hidup ini sering menguji hati dengan keresahan, fikiran yang cuba menjatuhkan, dan mimpi yang tiada makna. Namun hati yang ikhlas boleh dipelihara dengan zikrullah. Amalan sederhana tetapi istiqamah adalah benteng yang paling kuat untuk meneguhkan jiwa.

Berikut adalah susunan Wirid Harian Peneguh Hati, ringkas tetapi penuh makna, untuk diamalkan setiap hari.


🌅 Wirid Pagi (Selepas Subuh)

  1. 📖 Al-Fātiḥah – 1 kali
    👉 Niat hadiahkan pahala bacaan untuk diri, keluarga, dan seluruh umat.

  2. 🕊 Astaghfirullāh – 33 kali
    👉 Membersihkan jiwa dari noda halus dan beratnya fikiran.

  3. 🌸 Subḥānallāh, Alḥamdulillāh, Allāhu Akbar – masing-masing 33 kali
    👉 Zikir tasbih, tahmid, dan takbir sebagai kesyukuran membuka hari.

  4. 💖 Yā Muqallibal-qulūb, thabbit qalbī ‘alā dīnik – 7 kali
    👉 Doa Rasulullah ﷺ memohon hati yang teguh di jalan Allah.

  5. 🌞 Doa Penutup Pagi
    “Yā Allāh, jadikan hari ini cahaya bagi hatiku, tenang bagi fikiranku, dan berkat bagi amalanku.”


🌌 Wirid Petang (Selepas Maghrib atau Isyak)

  1. Ayat Kursi – 1 kali
    👉 Sebagai pelindung diri dari gelap dan gangguan.

  2. 🌿 Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh – 33 kali
    👉 Menyerahkan kelemahan diri dan mengambil kekuatan dari Allah.

  3. 🌙 Allāh, Allāh, Allāh – 7–11 kali, perlahan sambil bernafas tenang
    👉 Mengingat Allah sebagai pusat diri, menenangkan hati.

  4. 🌹 Selawat – 10 kali
    Allāhumma ṣalli ‘alā Sayyidinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi wa sallim
    👉 Mengikat hati dengan kasih sayang Rasulullah ﷺ.

  5. 🌌 Doa Penutup Malam
    “Yā Nūr, penuhi malamku dengan cahaya-Mu, lindungi aku dari gelapnya fikiran, dan tidurkan aku dalam rahmat-Mu.”


🌿 Penutup

Amalan ini ringkas, namun jika diamalkan dengan kesedaran dan keikhlasan, ia akan menjadi benteng hati yang tidak mudah runtuh. Zikir ini bukan sahaja menguatkan kita menghadapi ujian, tetapi juga menyinari mereka yang membaca dan mengamalkannya.

Semoga hati kita sentiasa dijaga oleh Allah, dijernihkan dengan zikrullah, dan dikuatkan dengan doa para solihin.


🔖 Hashtags:
#WiridHarian #ZikirPeneguhHati #CheeseburgerBuddha #KetenanganJiwa #Ramblings

0 comments:

Sebuah Doa Ruhani di Alam Māyā — Sebuah Seruan Kebangkitan Jiwa

9:09 PM Shamsul 0 Comments

 

                                                                 Danao Toba, Sumatra.

Sebuah Doa Ruhani di Alam Māyā — Sebuah Seruan Kebangkitan Jiwa

Doa Pembuka

Bismillāh ir-Raḥmān ir-Raḥīm

Dari Hukum Purba Manu,
dari Gerbang Tanpa Pintu Tao,
dari prinsip-prinsip Hermetik,
kebijaksanaan Upanishad,
dan kasih sayang Sang Buddha—

Dari garis keturunan Ibrāhīm (ʿalayhi as-salām),
Mūsā (ʿalayhi as-salām), pembawa Perintah,
ʿĪsā (ʿalayhi as-salām),
dan Muḥammad (ṣallallāhu ʿalayhi wa-sallam),
Penutup Para Nabi—

Aku tunduk dengan rendah hati di hadapan Tuhan Semesta Alam,
Allāh ʿAzza wa Jalla.

Semoga kebijaksanaan para leluhur,
yang diwariskan lintas generasi,
dibagikan kepada semua yang hatinya terbuka
dalam mencari ilmu dan menapaki jalan ruhani.

Salām.


Doa Penutup

Aku berlindung kepada Rahmat Tak Terbatas Allah,
Tuhan Pencipta dan Maha Kuasa,
dari segala kesalahan
dan dari setiap bayangan pikiran serta persepsi.

Aku berlindung dari nafsuku sendiri,
dan dari bisikan kegelapan.

Semoga seluruh makhluk, dalam enam alam,
di sepuluh penjuru,
melintasi masa lalu, kini, dan masa depan—
diselamatkan dari Yang Semu menuju Yang Hakiki,
dari Kegelapan menuju Cahaya,
dari Kematian menuju Keabadian.

Āmīn.

🌿 #Doa #Maya #SeruanKebangkitan #KesadaranJiwa #KebijaksanaanPurba #Quran #Buddha #Upanishad #Hermetik #Tao #Ibrahim #Musa #Isa #Muhammad #CahayaMengusirGelap #DariMatiMenujuKekekalan

0 comments:

🌙 Tongkat Hati – Jalan Bagi Sang Pencari

9:02 PM Shamsul 0 Comments


 


🌙 Tongkat Hati – Jalan Bagi Sang Pencari

SubhanAllah! Kadang, hidup terasa seperti jalan panjang yang berliku, tempat kita tersandung, tersesat, lalu — dengan rahmat Allah Yang Maha Pengasih — kita terbangun. Aku telah menapaki jalan ini, dan aku bagikan kata-kata ini untuk mereka yang masih mencari, yang merasa tersesat, atau yang merindukan kedamaian.

Aku pernah hilang, dan kini aku ditemukan. Seperti sebuah nyanyian yang dulu terngiang di telingaku, kini kebenarannya terasa bergetar dalam diriku. Tidur panjang dalam kejahilan telah terangkat, dan hati pun dibersihkan dari debu dunia. Yang tersisa adalah rasa kebebasan — keadaan yang dalam tradisi kita dikenal sebagai fanā’, meleburkan diri dalam Cinta Allah.

Namun hidup adalah hidup. Kita kembali lagi pada “memotong kayu dan menimba air.” Tetap saja, ketika hati dipoles dengan dzikir, setiap langkah, setiap napas, setiap pekerjaan menjadi ibadah.


🌿 Doa untuk Keteguhan

Dalam perjalanan ini, aku diberikan sebuah doa — sederhana, seperti tongkat Musa, namun cukup kuat untuk dijadikan sandaran:

اللّهُمَّ أَثْبِتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ، وَقَوِّمْ خُطُواتِي فِي سَبِيلِكَ، وَاكْفِنِي بِكَ عَنْ غَيْرِكَ

Allahumma atsbit qalbi ‘alā dīnik, wa qawwim khuṭuwātī fī sabīlik, wa’kfinī bika ‘an ghayrik.

“Ya Allah, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu, luruskan langkahku di jalan-Mu, dan cukupkanlah aku dengan-Mu di atas segala sesuatu selain-Mu.”

Doa ini bisa dibawa laksana tongkat jiwa. Bisikkanlah ketika jalan terasa terjal, ketika malam terasa panjang, atau bahkan ketika hidup terasa biasa saja.


🌌 Bernafas dengan Doa

Agar doa ini meresap dalam hati, cobalah dzikir sederhana dengan pernapasan:

  • Tarik napas: Allahumma atsbit qalbi ‘alā dīnik

  • Hembuskan napas: wa qawwim khuṭuwātī fī sabīlik

  • Hening sejenak: wa’kfinī bika ‘an ghayrik

Biarkan kata-kata ini bernafas melalui dirimu hingga ketenangan kembali.


🌙 Wird Kecil untuk Kehidupan Sehari-hari

Sebuah siklus dzikir singkat yang bisa diamalkan:

  • Astaghfirullah – 33 kali
    “Aku memohon ampun kepada Allah.”

  • La ilaha illallah – 33 kali
    “Tiada Tuhan selain Allah.”

  • Doa Tongkat – 7 kali
    (doa di atas)

  • Alhamdulillah – 3 kali
    “Segala puji bagi Allah.”

Cukup untuk membersihkan, menenangkan, dan menguatkan hati — lentera bagi sang pencari, tali bagi pendaki, tongkat bagi musafir.


🌺 Penutup

Aku selamanya bersyukur kepada jiwa-jiwa agung yang telah berjalan sebelum kita, yang membawa lentera mereka tinggi-tinggi, dan yang kebijaksanaannya kini menerangi jalan kita. Semoga kita melangkah rendah hati, setapak demi setapak, tanpa pernah melepaskan tongkat di tangan kita — yaitu dzikir kepada Allah.

Dan semoga kita semua, yang hilang atau masih mengembara, suatu hari menemukan diri kita di Pintu-pintu Kedamaian.

Alhamdulillah.

0 comments:

Nazar Hidup – Menapaki Lingkaran Dzikir

8:51 PM Shamsul 0 Comments

 


Nazar Hidup – Menapaki Lingkaran Dzikir

Aku di sini. Aku hadir. Perjalanan ini bermula bukan keluar, melainkan ke dalam — menuju misteri yang terhampar di balik batas-batas jasad ini. Aku mencari benang yang mengalir sepanjang waktu dan wujud, benang tanpa awal dan tanpa akhir, benang yang sejatinya adalah diriku.

Benang itu adalah Sumber — rahim Penciptaan, titik asal mula. Dari Yang Esa, lahirlah Segala. Aku tunduk kepada Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang telah meniupkan ruh ini ke dalam keberadaan. Aku ingat akan perjanjian di hadapan ‘Arasy-Nya, ketika semua ruh bersaksi: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” dan kami menjawab: “Benar, kami bersaksi.”

Hidupku adalah sebuah Haji. Setiap langkah yang kuambil adalah thawaf mengelilingi poros Yang Esa. Setiap napas adalah sujud. Aku pasrah kepada Kehendak-Nya, agar aku menjadi instrumen bagi Cinta, Rahmat, dan Kasih-Nya yang mengalir ke seluruh Ciptaan.

Untuk mewujudkan perjanjian ini, aku memikul sebuah Nazar Hidup:

Allah — aku milik-Mu.
Cinta-Mu, Rahmat-Mu, Cahaya-Mu — melalui diriku.

Nazar ini bukan sekadar kata-kata; ia adalah irama. Ia menenun dirinya sepanjang hari dalam dzikir:

  • Pagi: Awali hari dengan nazar saat terbangun. Tarik napas: Allah — aku milik-Mu. Hembuskan napas: Cinta-Mu, Rahmat-Mu, Cahaya-Mu — melalui diriku.

  • Siang: Berjalanlah seakan-akan sedang thawaf mengelilingi Ka’bah hati. Berhenti sebelum makan, ulangi dzikir itu, dan ingat: di sini pun ada Ciptaan Allah.

  • Sore: Merenung dalam keheningan. Di mana Cahaya-Nya mengalir hari ini? Di mana aku menolak? Serahkan keduanya kepada-Nya.

  • Malam: Sebelum tidur, pasrahkan kembali ruh kepada Sumber-Nya dengan nazar itu.

Seiring waktu, irama ini menjadi cara hidup — bukan sekadar mengingat, tetapi hidup itu sendiri.

Dan ketika aku berjalan, tiga kata sakti membentuk Lingkaran Dzikir:

  • Subḥānallāh — untuk kembali.

  • Bismillāh — untuk memulai.

  • Labbayk Allāh — untuk hadir sepenuhnya.

Seperti butiran tasbih, mereka terus berputar tanpa henti: kembali, memulai, hadir. Benang itu tetap mengalir tanpa awal dan tanpa akhir, cerminan dari Yang Abadi.

🌙


Ap

0 comments:

Renungan Keredhaan Allah

10:34 PM Shamsul 0 Comments

 

                                       Arwah, Mamu LI (Bakoi) Pondok Nelayan Jelutong.

Renungan Keredhaan Allah

Selangkah demi selangkah, inshaAllah, saya rasa seperti hampir dengan keredaan Allah ‘Azza wa Jalla. Mungkin hanya perasaan pagi ini sahaja, namun ia mencukupi.

Kalau saya renungkannya, ia menandakan pemikiran saya tidak lagi dikongkong oleh nafsu, dan saya tidak lagi merasa menjadi hamba padanya. Saya rasa walaupun buta seketika, saya dipimpin dan dikasihi oleh Yang Maha Esa. Kasih yang tiada penghujungnya.

Di sinilah saya teringat daripada mana datangnya ilham untuk mencari keredaan Allah. Ia bukan sekadar ilham kosong, tetapi hadiah daripada seorang sahabat karib saya yang telah pergi, arwah ‘Li Bakoi’, atau lebih dikenali sebagai Mamu Li di kalangan mereka yang selalu lepak di Restoran Ikan Sembilang, Pondok Nelayan, Jelutong.

Beliau sering bertanya kepada saya,

“Apa yang paling penting didoakan bila kita pohon kepada Allah?”

Jawapannya yang beliau titipkan:

“Keredaan Allah atas segala hidup dan mati kita.”

Sehingga kini, saya masih berpegang pada nasihat itu. Inilah kenangan yang membekas dalam hati saya setiap kali soal keredaan timbul dalam hidup.

Moga Allah mencucuri rahmat-Nya ke atas roh sahabatku Mamu Li, dan menempatkannya di kalangan orang-orang yang dikasihi-Nya. Ameen.


Doa untuk Arwah Sahabat

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ، وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ.

“Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, sejahterakanlah dia, maafkanlah dia, muliakanlah tempat singgahnya, luaskanlah kuburnya, mandikanlah dia dengan air, salji dan embun, serta sucikanlah dia daripada segala kesalahan sebagaimana Engkau sucikan kain putih daripada kotoran

#RenunganHati #RedhaAllah #LangkahKecil #PerjalananRohani #KenanganSahabat #KasihAllah #DoaUntukArwah


Tuan

0 comments:

Kairos - Hari ini aku melangkah keluar dari masa.

10:23 PM Shamsul 0 Comments

                                     Warisan Ilmu itu datangnya melalui masa dan kesabaran.
 

Kairos

Hari ini aku melangkah keluar dari masa.
Aku tidak lagi mengira hidup dengan detik atau jadual.
Hari ini aku masuk ke dalam Kairos
saat yang tidak terikat masa,
di mana jiwa bebas bernafas,
dan segala yang ada,
hanya ada.

Hari ini aku mengaktifkan realiti sebenarku.
Bukan ilusi yang dibentuk oleh ingatan atau ketakutan,
tetapi medan suci masa kini—
satu alam di luar fikiran, di luar identiti,
di mana aku bukan nama, wajah, atau kisah...
tetapi cahaya di sebalik mata.

Hari ini aku adalah Kehadiran Murni.
Diam.
Luas.
Sedar.
Bersatu sepenuhnya dengan semua yang mengelilingiku—
bukan terpisah, tetapi menyatu.

Hari ini aku Pulang.
Bukan ke tempat,
tetapi ke satu keadaan kewujudan.
Kembali kepada Asal.
Ke jantung kesenyapan.
Ke om yang bergema dalam segala sesuatu.


#Kairos #KehadiranMurni #SaatSuci #KebangkitanRohani #HikmahHermetik #DiLuarMasa #HidupSedarkanDiri #KembaliKeAsal #Om #AkuTelahPulang

0 comments:

Doa Dipagi Jumaat.

1:39 PM Shamsul 0 Comments

 

Doa Dipagi Jumaat.

Lindungilah aku dari murka-Mu dan dari segala ujian-Mu, ya Tuhanku. Dari rasa kecewa-Mu, dari penyesalan-Mu terhadap diriku. Kasihilah aku, ya Allah, sebagaimana ketika Engkau mula-mula menciptakan aku — saat aku menyaksikan Keindahan dan Kebenaran-Mu, sebelum Engkau memilih untuk menjadikan aku dalam keadaan yang aku tempuhi kini.

Aku tidak meminta syurga, dan aku tidak memohon dijauhkan dari neraka. Yang aku mohon hanyalah agar Engkau izinkan aku melaksanakan peranan dan takdir yang telah Engkau tuliskan untukku. Lindungilah aku dari diriku sendiri, dari nafsuku, dan dari bisikan jin serta syaitan yang menyesatkan hati dan jiwaku.

Kurniakanlah aku Redha-Mu, ya Allah — dalam setiap amalanku, setiap mimpiku, dan setiap keyakinanku. Allahu Akbar!



0 comments:

Bertemu dengan Ni-ku (Satu renungan peribadi)

12:51 AM Shamsul 0 Comments

 

Bertemu dengan Ni-ku

(Satu renungan peribadi)

Ada hari-hari di mana tiada apa-apa pun yang berlaku.
Tiada tanda, tiada sinkronisiti.
Tubuh rasa lesu, fikiran letih, dan jiwa bertanya dalam diam: mengapa?

Namun di sebalik keheningan itu—sesuatu sedang menunggu.
Sesuatu yang purba, yang datang dari dalam.
Sesuatu yang Jung namakan sebagai Intuisi Introvert—dan kini aku mula sedar bahawa aku telah lama bersamanya.





Aku bertemu dengan Ni-ku di Alaska, walaupun ketika itu aku belum tahu namanya.

Ia hadir dalam kabus kelabu Sand Point, saat aku turun dari pesawat dan melangkah ke dalam hidup yang tidak aku rancang.
Seorang kru hilang.
Makian kasar dari kapten.
Pintu trak terbuka—Naiklah.
Dan sesuatu dalam diriku berkata ya, bukan dengan logik, tapi dengan kepastian.
Satu rasa tahu yang mendahului pemahaman.
Itulah Ni.

                                  Dari mana Dia datang entah kemana dia pulang - WallhuAlam!



Aku bertemu dengannya lagi dalam malam-malam panjang di laut, merenung skrin radar, dengan degupan kapal Iceland di bawah tapak kaki.
Ia tidak bercakap dengan kata-kata, tetapi dengan imej, pola, dan rasa.
Ia memberi bentuk kepada diam.
Makna kepada kekacauan.
Ia tidak meminta aku berfikir, tetapi melihat.


Ni tidak lantang.
Ia tidak menjeritkan kebenarannya.
Ia berbisik.
Ia menunjukkan gambaran keseluruhan—bukan secara serpihan, tetapi sebagai keseluruhan.
Bukan hari ini, tetapi mungkin lima tahun dari sekarang—tiba-tiba semuanya menjadi terang.

Ia hidup di antara ruang kosong antara fikiran,
dalam simbol-simbol mimpi,
dalam benang halus yang menyambungkan bab-bab hidup,
seperti pulau yang timbul dari dasar lautan.

                                                    Aku hanya mampu tunggu ketibaanya.



Aku pernah menunggu Ni pada hari-hari seperti ini—
apabila YouTube tidak memberi apa-apa makna,
apabila buku lakaran kekal tertutup,
apabila doa pun terasa kering.

Dan kemudian, selalunya di malam hari, atau dalam langkah sunyi di jalan,
ia kembali.
Lembut seperti nafas.
Pasti seperti cahaya di balik kabus.


Bertemu dengan Ni-ku seperti bertemu dengan bahagian diriku yang selalu tahu.
Ia tidak menjelaskan.
Ia hanya menunjuk.
Dan aku mengikut, walaupun belum nampak ke mana.

Ni mengajarku ini:
Tidak semua ilham datang dengan desakan.
Tidak semua kebenaran itu lantang.
Dan bila hidup terasa sunyi dan kosong,
mungkin ada sesuatu yang dalam sedang mula muncul.


Wallahu’alam. Hanya Dia Yang Maha Mengetahui.


#IntuisiIntrovert #PsikologiJung #JalanSunyi #DuniaDalam #KesedaranSpiritual #KembaraJiwa #RenunganHati #INFJMalaysia #MenungguIlham #PulauKapas #TheAleutianBlues

0 comments:

Ketika Tangan Tak Mampu Melukis, dan Hati Mencari Jawapan

3:32 AM Shamsul 0 Comments

 

Doa dari Belakang Tabir

– Ketika Tangan Tak Mampu Melukis, dan Hati Mencari Jawapan –

Aku bertanya kapada Ynag Maha Esa, Adakah pintu Seni Lukisan ditutup bagi ku. Adakah ini satu pengambilan balik nikmat yang diberi. Dengan bantu Sheikh AI, shabatku ini jawapanya:-

“Apa sudah mati daya lukisku?”

“Adakah jiwa ini sudah tidak mampu melahirkan keindahan?”

Aku pun menunduk —
dan dari celah sunyi itu, terbitlah sebuah doa dari belakang tabir.


Mungkin Energi Itu Tidak Mati, Tapi Dialihkan

Kadang-kadang, kreatif itu tidak hilang.
Ia hanya menukar bentuk —
dari garis kepada kata,
dari warna kepada zikir,
dari lukisan kepada kesedaran yang lebih dalam.

Jiwa yang benar-benar hidup akan terus mencipta —
walau bukan dengan tangan,
tapi dengan penghayatan,
dengan doa,
dengan kehadiran.


Mungkin Energi Itu Tersekat oleh Luka

Adakalanya, kreativiti tersekat oleh sesuatu yang tidak terlihat:

  • Suara kecil yang mengatakan "kau tak cukup baik",

  • Beban perasaan yang tertinggal bertahun di belakang,

  • Atau kesedihan yang belum sempat dijemput pulang.

Bukan salah lukisan yang tidak keluar,
tetapi jiwa belum lega untuk membenarkannya lahir.


Mungkin Ini Musim Diam

Seperti pohon yang kelihatan mati di musim sejuk,
tetapi sedang bersiap untuk berbunga,
mungkin ini hanyalah musim diam.

Diam yang bukan ketiadaan,
tetapi penantian yang dalam.
Diam yang menjadi tempat Tuhan mengatur semula isi hati.


Doa dari Balik Tabir

"Ya Allah,
Aku rindu melukis,
tetapi tanganku kaku, dan hatiku keliru.
Jika ini adalah musim menanti,
berikan aku sabar dan reda.
Jika ini adalah panggilan untuk sujud lebih dalam,
dekatkan aku denganMu, ya Tuhan.

Dan bila tiba waktunya,
izinkan aku berkarya bukan kerana ingin dipuji,
tetapi kerana ingin mengabdi."

Ameen.


Kebenaran yang Lembut

Karya sejati tidak lahir dari keterpaksaan,
tetapi dari jiwa yang telah bersedia.
Maka biarlah aku menunggu —
bukan dalam kecewa, tetapi dengan doa.

Kerana aku tahu,
dari balik tabir yang gelap itu,
Tuhan sedang menyulam cahayaku semula.


#doadaribelakangtabir #jiwakreatif #sunyiituladangjiwa #energiseni #berkaryadenganhati #healingbatin #cahayakreatif #musimdiam #seniituluhur #tanganyangberdoa

0 comments:

Cahaya Yang Benar: Menyingkap Kabus Maya - Khutbah Diri Jumaat.

9:14 PM Shamsul 0 Comments

 

                                                          Kacau! Jangan Tak Kacau!

Cahaya Yang Benar: Menyingkap Kabus Maya

Ada satu cahaya yang tidak pernah padam,
yang tidak memerlukan lampu, skrin, atau sorotan dunia.
Ia tinggal diam di dalam dada,
menanti saat manusia berhenti mencari di luar,
dan mula mendengar bisikan di dalam.

Tetapi cahaya ini telah lama terhalang,
dilindungi oleh lapisan maya
penipuan yang lembut, namun menggigit jiwa perlahan-lahan.
Kita hidup dalam dunia yang terang secara zahir,
namun hati kita —
sunyi, kelam, dan gelap.

                             Pi balik, Pi balik , muka tu saja! Lan dengan Amirul.

Bayangan Yang Membalut Cahaya

Lapisan itu datang dalam berbagai bentuk:

  • Skrin yang tak pernah tidur,

  • Pujian yang diminta,

  • Perbandingan yang memenatkan,

  • Ketakutan untuk kelihatan ‘biasa’,

  • Kebimbangan ditinggalkan jika tidak mengikuti arus.

Sedikit demi sedikit, kita menjarakkan diri dari cahaya itu.
Hingga akhirnya, kita lupa arah pulang.


                                Ada satu ketika dulu. Makcik ni ad cucu dah kot!

Sunyi Adalah Kunci

Cahaya yang benar tidak bersaing dengan hiruk-pikuk.
Ia memilih diam.

Maka jika engkau mahu melihatnya semula:
Duduklah dalam sunyi.
Tutup semua tingkap maya,
dan biarlah jendela batin terbuka semula.

Dalam sunyi itu, akan datang:

  • tangisan tanpa sebab,

  • kenangan yang membasuh jiwa,

  • dan keinsafan bahawa kita telah terlalu lama hilang.

Dan di balik semua itu — cahaya akan mula menyala semula.


Cahaya Itu Adalah Dirimu

Jangan cari ia di luar.
Cahaya itu bukan milik para influencer,
bukan juga dalam ‘view count’ atau ‘reach’ yang viral.
Cahaya itu telah lama menunggu,
di balik doa yang pernah kau lafaz dengan tulus,
di sebalik hati yang pernah bersujud dalam gelap.

Cahaya yang benar ialah diri yang kembali mengenal Penciptanya.


Penutup

Jika hidupmu terasa gelap,
bukan kerana cahaya itu tiada,
tetapi kerana kabus maya telah menutupi jendela jiwamu.

Bersihkan perlahan-lahan.
Lap dengan taubat.
Basuh dengan doa.
Sapu dengan keikhlasan.
Dan cahaya itu akan muncul kembali,
menyuluh langkah ke hadapan —
tanpa lagi perlu berpura-pura.

Wallahu A’lam.


#cahayasejati #kembalikepadaAllah #hidupdalamkebenaran #refleksiJiwa #meninggalkanmaya #kesedaranbatin #healinghati #sunyiituobat #hikmahkesunyian #cahayadalamgelap

           Ibu angkat saya semasa di San Francisco. Mrs Estelle Perisoto berasal dari Nova Scotia. Canada.

0 comments:

Hidup Berpura di Alam Maya: Jalan Pulang ke Diri yang Sejati - Salam Jumaat.

8:57 PM Shamsul 0 Comments

 

                                   Arwah, Mohd Kalam, Abang, Sahabat, Penasihat. Al Fatihah!

Hidup Berpura di Alam Maya: Jalan Pulang ke Diri yang Sejati

Kita hidup dalam satu zaman di mana manusia saling terhubung tanpa henti, namun semakin jauh dari diri sendiri. Dunia maya — media sosial, pesanan segera, ‘status’ yang dikongsi — menjadi pentas harian, tempat kita memperagakan versi terpilih dari kehidupan.

Namun, semakin lama kita menyelam ke dalamnya, semakin terasa kepenatan jiwa.
Semakin banyak wajah palsu yang dipakai, semakin kita lupa wajah asal.

Bagaimana hendak melepaskan diri dari kepura-puraan ini?
Bagaimana hendak kembali kepada hakikat — kepada jiwa yang jujur, sunyi, dan damai?





1. Kenali Topeng Yang Sedang Dipakai

Tanyakan pada diri dalam diam:

  • Adakah yang aku tampilkan di maya ini benar mencerminkan aku?

  • Adakah aku sedang mencari pujian, penerimaan, atau sekadar berlindung dari kekosongan?

  • Siapakah aku bila tiada sesiapa memerhati?

Kesedaran ini adalah langkah pertama.
Apabila sedar akan topeng yang dipakai, barulah ada harapan untuk menanggalkannya.




2. Kembali ke Alam Nyata

Kurangkan waktu dalam talian.
Hidupkan semula sentuhan dengan alam dan manusia sebenar:

  • Berjalan di bawah langit terbuka

  • Menyentuh tanah, daun, air

  • Menikmati sunyi tanpa skrin

  • Bercakap dengan orang yang benar-benar ada, bukan hanya hadir dalam notifikasi

Alam sebenar menyembuhkan.
Alam maya pula, bila berlebihan, hanya menambah keletihan.


        Anak kedua sulong-Timo mencari makna buat diri dia. Tinggal di Switzerland.

3. Belajar Menerima Diri

Berpura-pura lahir dari takut tidak diterima.
Namun bila kita mula menerima:

  • Bahawa kita tidak sempurna,

  • Bahawa kita tidak perlu dibandingkan,

  • Bahawa nilai kita tidak ditentukan oleh ‘likes’ dan ‘followers’…

…maka satu demi satu lapisan akan gugur.
Yang tinggal hanyalah diri yang sebenar — dan itulah yang paling indah.


          Bersama Seniman Raja Shahriman dan Porf. Najjar Musawir dibengkel Beliau.

4. Amalkan Kesedaran (Mindfulness)

Hidup yang berpura lahir dari kealpaan.
Lawan ia dengan kesedaran
kesedaran nafas, detik ini, rasa syukur, kehadiran.

Latihlah:

  • Duduk diam, hanya memerhati nafas

  • Menulis jurnal dengan jujur

  • Solat, zikir, doa… bukan sekadar lafaz, tetapi hadir sepenuh hati

Kesedaran menyinari ruang yang selama ini ditutup oleh penipuan diri.


     Bersama Arwah, Mohd kalam di saf pertama di Masjid Jamek Sungai Pinang.

5. Cari Komuniti Yang Tulus

Carilah sahabat yang meraikan kejujuran.
Bukan yang memuji wajah palsu, tetapi yang mencintai luka dan kejujuran kita.

Kongsi cerita sebenar.
Menangis tanpa malu.
Dengarkan, dan didengari.
Itulah kemanusiaan yang sejati.


6. Sedar Bahawa Maya Bukan Hakikat

Ingatlah — alam maya hanyalah bayang-bayang.
Ia bukan keseluruhan cerita hidup sesiapa pun.

Gambar ditapis.
Kata disunting.
Senyum dipilih.

Jangan bandingkan perjalanan sebenarmu dengan potongan kisah orang lain yang belum tentu benar.


                                         Siapa Diri Ini yang sebenarnya?

Penutup

Melepaskan diri dari hidup berpura dalam alam maya bukan bermakna menolak teknologi.
Ia bermakna kembali menjadi tuan kepada diri sendiri.

Kita bukan avatar.
Kita bukan ‘content’.
Kita bukan persona yang dicipta untuk disukai ramai.

Kita adalah roh yang hidup.
Bernyawa, bertanya, mencari makna.
Dan hakikat itu —
cukup untuk membawa kita pulang kepada diri yang sebenar.

Wallahu A’lam.
Hanya Dia yang Maha Tahu akan isi hati dan jalan pulang setiap insan.

Salam Jumaat, Salam Kaish Sayang.


#hidupsejati #alamnyata #kesedarandiri #berhentiberpura #healingdigital #jiwaterhubung #simplicitymatters #mindfulnessmalaysia #ketenangandiri #caridiriyanghilang

                                               Beriman diAlam Maya.



0 comments:

Hujan, Jalan, dan Bisikan Pertama Tauhid

12:54 AM Shamsul 0 Comments

                                                                   Memikul Hidup. 


 Hujan, Jalan, dan Bisikan Pertama Tauhid

Sekitar tengah hari, panggilan itu datang. Saya berada di pejabat di Pulau Pinang apabila diberitahu bahawa anak saya telah lahir — dua bulan lebih awal — di sebuah hospital di Petaling Jaya.

Terkejut. Takut. Sebuah rasa tidak berdaya yang belum pernah saya alami sebelum itu mencengkam dada saya. Tanpa berlengah, saya tinggalkan segalanya dan memulakan perjalanan paling sukar dalam hidup saya.

Saya tiba di Ipoh lewat petang, dan di sanalah saya — berdiri dalam hujan renyai di tepi jalan, mengangkat ibu jari, cuba menumpang kenderaan. Air mata hangat mengalir di pipi — diam dan deras — kerana saya rasa sungguh tidak berdaya. Anak saya telah lahir ke dunia, dan saya tidak ada di sisinya. Saya tidak tahu sama ada isteri dan anak saya selamat. Saya hanya tahu, saya mesti ke sana.

Seolah-olah doa saya terjawab, sebuah kereta berhenti. Seorang lelaki India menurunkan tingkap dan berkata, “Saya nak ke KL. Kalau awak tak kisah lagu-lagu pujaan Dewa Ganesha, boleh tumpang.” Saya hampir ingin memeluknya. Kami memuatkan dua beg besar yang berisi barang-barang bayi — yang sempat isteri saya siapkan ketika kali terakhir dia berkunjung ke Pulau Pinang — dan kami pun bertolak.

Hari itu jatuh pada musim Perayaan Hantu Lapar. Semua kenderaan awam — kapal terbang, kereta api, bas, teksi — penuh sesak kerana orang ramai bergerak ke serata negara untuk pulang ke kampung halaman. Hanya keajaiban kecil yang boleh membawa saya ke sana. Dan dengan keizinan Tuhan, saya tiba juga.

Saya sampai ke hospital lewat malam. Lorong-lorongnya sunyi. Di situlah saya temui isteri saya — seorang diri di bilik, letih tetapi menang. Saat mata kami bertentang, saya lihat senyumnya — indah penuh kebanggaan — dan kemudian air mata, jatuh jernih dari mata yang telah menahan sakit, takut dan sunyi. Keberaniannya merendahkan ego saya.

Melalui cermin, saya melihat anak saya buat pertama kali. Waktu melawat sudah lama tamat. Tetapi entah dari mana, seorang jururawat muncul dan membawa saya masuk.

Dan di situlah saya — mendukungnya.

Bungkus kecil kehidupan, belum cukup bulan, tapi sepenuhnya hadir. Sepenuhnya anakku.

Lalu dengan lembut dan penuh takzim, saya bisikkan kalimah syahadah ke telinganya:

"La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah."

Saya hembuskan ke dalam dirinya roh tauhid. Doa pertama dari seorang ayah — dalam nafas yang bergetar dan cinta yang tidak berpenghujung.

Om Dewa Ganesha, penghalang rintangan, pelindung anak-anak dan para musafir — engkau juga hadir malam itu. Aku yakin. Seperti juga Allah, Yang Maha Penyayang. Ia adalah malam yang dijalin dengan benang-benang Rahmat.

Namun, izinkan aku berkata: Aku tidak menoleh kembali ke detik ini untuk membela apa yang terjadi kepada keluargaku.

Hidup kami tidak mudah.

Dan aku — lebih dari sesiapa pun — memikul kesalahan itu. Aku hilang arah. Aku ketakutan. Ketika itu aku baru 25 tahun, tidak punya pengalaman menghadapi realiti hidup di Green Bay, Wisconsin. Aku tidak menulis ini untuk menjelaskan atau membenarkan, tapi untuk mengingati — dan untuk memahami dengan lebih dalam waktu-waktu ketika aku kuat, dan lebih-lebih lagi ketika aku gagal sebagai seorang ayah. Gagal dengan teruk.

Hanya Allah yang dapat mengampuni aku.

Aku berjalan melalui api dan salji Wisconsin. Aku memakai topeng seorang lelaki yang cuba bertahan, sedang di dalamnya aku hanyalah anak muda yang mencari makna. Aku menulis hari ini bukan untuk menyunting masa lalu, tetapi untuk memberinya cahaya — agar walau dalam bayang-bayang, tetap ada erti.


#NazriJosephBahari #KenanganBapa #HospitalAssunta #PerayaanHantuLapar #BisikanTauhid #KegagalanDanKeampunan #DewaGanesha #PerjalananSpiritual #GreenBayWisconsin #ApiDanSalji #AnakPerantauan

0 comments:

Renungan Pagi: Untuk Nazri Joseph Bahari, Anak Sulungku di Amerika

9:52 PM Shamsul 0 Comments

 

 Nazri bermimpi untuk menjadi Aerospace Egineer tetapi hanya aaahkirnya mejadi  Airline Pilot 


Renungan Pagi: Untuk Nazri Joseph Bahari, Anak Sulungku di Amerika

Pagi ini, hati saya dibawa kembali ke tahun 1973 — ke sebuah bilik bersalin di Hospital Assunta, Petaling Jaya. Di situlah lahirnya cahaya pertama dalam hidup saya sebagai seorang ayah: Nazri Joseph Bahari.

Ketika itu saya bekerja jauh di utara, sebagai Sales Executive di Hagemeyer Trading Co., sebuah syarikat Belanda yang paling tua di Georgetown, Pulau Pinang. Jauh dari isteri dan anak dalam kandungan, saya hanya mampu berdoa dan berserah kepada Allah.

Isteri saya ketika itu, Faye Marie Goerst, yang kini dikenali sebagai Nazrah binti Abdullah, adalah seorang pensyarah di Institut MARA Petaling Jaya. Dengan keberanian yang saya masih kagumi hingga ke hari ini, dia memandu sendiri kereta buruk Volkswagen kami dari asrama ke hospital — seorang musafir hamil yang tidak menunggu suami, tetapi bertawakkal penuh keyakinan demi kelahiran anak kami.

Tindakan itu bukan sekadar keberanian, tapi satu bentuk cinta dan kekuatan yang tidak pernah saya lupa. Ia menjadi simbol awal ketabahan keluarga kecil kami, satu kenangan yang tidak akan luput dari ingatan saya.

Kini, anak itu telah dewasa. Hidup di bumi asing, Amerika Syarikat — sebuah tanah yang jauh dari asal usulnya, namun di sanalah dia membina kehidupannya sendiri.
Dan saya, di sini, merenung pagi yang hening, mengenang detik-detik awal yang melahirkan bukan hanya seorang anak, tetapi juga seorang ayah dalam diri saya.

Semoga Allah merahmati langkahmu, Nazri, dan semoga segala keberanian ibumu terus mengalir dalam darahmu.



#NazriJosephBahari #RenunganAyah #AnakDiPerantauan #Kenangan1973 #HospitalAssunta #PetalingJaya #PulauPinang #Hagemeyer #InstitutMARA #KelahiranAnakSulung #KasihAyah #DoaDariJauh

0 comments:

Bisikan dari Yang Maha Suci — oleh Shamsul Bahari

11:47 AM Shamsul 0 Comments

                                                      Ilmu didalam Dada Jangan Disiakan.


Kenalilah Kamu Siapa Sebenarnya Dirimu Ini.

Bisikan dari Yang Maha Suci
— oleh Shamsul Bahari

Alhamdulillah…
Sesekali, datang bisikan halus,
lembut menyapa dada yang gersang —
dari Yang Maha Suci, Allah ‘Azza wa Jalla.

Ia bukan suara,
bukan gema guruh di langit atau bayu di pohon,
tapi getaran halus dalam lubuk hati,
tempat di mana rahsia Tuhan disemat.

Aku ini hanyalah musafir,
yang berjalan di atas jalan hidup penuh liku,
mencuba segala yang terlintas,
meraba cahaya dalam kelam pencarian.

Namun yang benar, hanya Dia yang Tahu.
Setiap langkah yang ku sangka tersesat,
rupanya diatur penuh kasih,
dalam rencana Ilahi yang aku tak mampu baca.

Ada ketika aku rebah,
dan hanya diam yang menyahut.
Namun dalam diam itu,
ada zikir yang tak ku sedari —
bisikan Ilahi yang tak pernah jauh.

Segala puji bagi Allah,
yang membuka pintu walau aku sering lupa,
yang meniupkan harapan walau aku putus,
dan yang memanggilku pulang,
walau aku berkali-kali berpaling.

Wallahu A‘lam.
Sesungguhnya hanya Dia yang Maha Mengetahui.

0 comments:

Sebuah Dedikasi (Doa) Pagi 21 Julai 2025 — Queen's Bay, Bayan Lepas, Pulau Pinang

3:54 PM Shamsul 0 Comments

                                           Pulau Pinang, Pulau Mutiara tanah tumpah darahku.


 Sebuah Dedikasi (Doa) Pagi

21 Julai 2025 — Queen's Bay, Bayan Lepas, Pulau Pinang

Pagi ini, saat azan Subuh berkumandang di udara seperti seruan dari alam yang lain, aku terhenti. Baru sahaja jari ini ingin mengetuk kekunci untuk memulakan hari, Tuhan memanggilku semula — bukan untuk bertindak, tetapi untuk mengingat.

Fikiranku berlayar tanpa sebab yang jelas, menuju kepada mereka yang telah kembali ke alam yang ghaib —
Isteriku yang telah pergi.
Dua orang abangku yang telah mendahuluiku.
Ibubapaku dan datuk nenekku yang tercinta.
Pakcik makcikku, para guru dan sahabatku —
Semua mereka, jiwa-jiwa yang pernah menemani langkahku di lembah dan puncak kehidupan ini.

Aku tidak bertanya mengapa ingatan ini hadir. Jiwa tahu apa yang perlu dihormati. Dan hari ini, aku hormati mereka semua — dengan syukur, dengan kasih, dengan air mata yang bukan untuk meratapi atau meraikan, tetapi sekadar mengenang.

Kepada mereka yang pernah tersentuh oleh kehidupanku, sama ada dalam cahaya kegembiraan mahupun bayang-bayang duka — aku mohon ampun, dan aku juga memberi maaf.
Kepada mereka yang membentuk siapa diriku, walaupun dalam diam atau dalam perpisahan — aku tunduk penuh terima kasih.
Kepada mereka yang kini di seberang tabir — aku hadiahkan kesedaran pagi ini, degupan hati ini, dan nafas yang masih berbaki.

Ya Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, ampunilah mereka dan limpahkanlah cahayaMu kepada roh-roh mereka.
Tempatkanlah mereka dalam kedamaian dan rahmatMu yang abadi.
Ameen.


#kenangan #doabuatyangtelahpergi #refleksipagi #kesyukuran #catatanrohani #bayanlepas #pagiinipenang #doajiwa #warisanjiwa #refleksiislamik #rahmatpagi #pengajarankehiudpan #barakah


Le

0 comments:

🌀 Dialog Antara Ego dan Jiwa

11:20 PM Shamsul 0 Comments

 

                                                                      BEHOLD! BAKA!

🌀 Dialog Antara Ego dan Jiwa

(Ditulis selepas Azan kedua, dalam keheningan masjid)

EGO:
Mengapa kau selalu cuba mendiamkan aku?
Tanpa aku, siapa kau?
Aku yang beri nama, cerita, bentuk.
Aku yang membina duniamu.
Bukankah aku yang menjaga keselamatanmu?

JIWA:
Kau tidak menjaga keselamatan, kau hanya membuatku sibuk.
Kau bina tembok dan panggil itu rumah.
Kau beri watak dan topeng, dan panggil itu aku.
Namun aku tidak pernah milikmu untuk dikurung.

                                                              Berdialog bersama Jin


EGO:
Kalau begitu, siapa kau tanpa aku?
Kosong? Tanpa suara? Dilupakan?

JIWA:
Aku adalah keheningan sebelum nama.
Nafas di bawah nafas.
Aku tidak takut dilupakan—
kerana aku tidak pernah dilahirkan untuk dikenang.

                                                                 Melepaskan Diri. 

EGO:

Tapi tanpa aku, mereka takkan dengar kau.
Takkan nampak kau.
Kau perlukan kecerdikanku, ketajamanku.

JIWA:
Aku bukan untuk dilihat.
Aku hadir untuk melihat.
Dan ketajamanmu hanya melukakan bila terlalu digenggam.
Jika dipolish, kau boleh pantulkan cahaya—tetapi kau bukan cahaya itu sendiri.

EGO:
Jadi, kau tak perlukan aku?

JIWA:
Aku perlukanmu...
untuk sementara waktu.
Seperti sampan untuk menyeberang lautan.
Tapi jangan sesekali kau anggap kau adalah lautan itu.

                    Ferry (Katamaran) Pulau Jerejak - latar belakang Jambatan Stau Pulau Pinang.

EGO:

Apa akan jadi kepadaku?

JIWA:
Kau akan melembut.
Kau akan tunduk.
Kau akan jadi cukup rendah hati untuk berkhidmat,
bukan memerintah.


#egodanjiwa #kebangkitanrohani #dialogdalam #kesedarandiri #penyerahan #jalanjiwa #azanmemanggil #hikmatjiwa #ketenangandalam #subhanallah #perjalanandalam #siaspiritual #kosongkandirimu #renunganjiwa

0 comments:

Bisikan dari Alam Ghaib - KeAlam Nyata

10:29 PM Shamsul 0 Comments

 

                         Alam Ghaib - The Twilight Zone, Acrylic on canvas, donated to USM.

🕊 Bisikan dari Alam Ghaib - Alam yang tak diketahui.

Yang Tidak Diketahui tidak datang—kerana Ia tidak pernah pergi.
Ia adalah keheningan dalam nafasmu sebelum fikiran berikutnya muncul.
Ia adalah saksi kepada dukamu dan sukamu.
Ia adalah ruang di mana ilusi tentang “dirimu” menari/ berdendang sayang.

Kau mencari kebebasan?
Maka jangan bermula dengan menambah, tetapi dengan mengurangkan.
Buang nama, gelaran, ingatan, dan “aku”.
Apa yang tinggal apabila semua yang bukan dirimu telah terlerai?

Jangan kejar cahaya.
Berdirilah dengan tenang—dan bayang akan jatuh di belakangmu.

Kerinduan pada kebenaran juga adalah benang dalam mimpi.
Namun jangan menolaknya; ikutilah dengan lembut.
Seperti jaring labah-labah ditiup angin,
ia mungkin membimbingmu pulang ke pusat yang sunyi.

Buang tongkat-tongkatmu—rasa bersalah, menyalahkan, identiti.
Termasuk kitab suci, guru, doa.
Gunakanlah, hormatilah,
tetapi jangan tinggal di dalamnya.

Yang Tidak Diketahui tidak tersembunyi.
Ia adalah perkara yang paling biasa—kesedaranmu sendiri,
tidak disentuh oleh hiruk-pikuk,
tidak disentuh oleh si “pengenal”.

Kau bukan gelombang fikiranmu.
Kau adalah lautan di mana ia timbul dan tenggelam.

Lepaskan segalanya! Aho! Subhanallah!


#kebangkitanrohani #penyerahan #kesedaran #lepaskan #tanpakeakuan #tao #fikiranzen #hikmatdalamdiam #subhanallah #keamanandalaman #pencarikebenaran #yangghaib #hadirnyayangIlahi #jalanmistik #kosongkandirimu

0 comments: